Bunyi Sol Sneaker

bagaimana karet vulkanisasi mengubah cara manusia berjalan tanpa suara

Bunyi Sol Sneaker
I

Pernahkah kita berada di pinggir lapangan basket tertutup, memejamkan mata, dan sekadar mendengarkan? Suara apa yang paling mendominasi ruangan itu? Bukan suara pantulan bola yang menggema, melainkan paduan suara decitan berfrekuensi tinggi. Squeak, squeak, squeak. Bunyi sol sepatu yang bergesekan dengan kayu yang dipelitur. Atau mari kita bayangkan situasi yang lebih sederhana. Pernahkah kita iseng berjalan mengendap-endap dari belakang untuk mengagetkan seorang teman, dan berhasil murni karena langkah kita sama sekali tidak terdengar? Tanpa kita sadari, kemampuan kita untuk berjalan tanpa suara—atau berdecit tajam saat berolahraga—adalah sebuah kemewahan modern. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dialami oleh nenek moyang kita.

II

Mari kita mundur ke beberapa abad yang lalu untuk merasakan perbedaannya. Sebelum abad ke-19, dunia manusia adalah dunia yang sangat berisik. Sepatu dibuat dari material yang menantang gravitasi dengan suara keras. Orang-orang menggunakan sepatu dengan sol kulit kaku, kayu yang tebal, atau bahkan dilapisi paku besi agar tidak cepat aus. Setiap langkah berbunyi klak-klak-klak di atas jalanan berbatu. Bayangkan jika kita harus menyusup atau keluar rumah diam-diam di malam hari pada era Victoria; seluruh penghuni rumah pasti akan terbangun. Anatomi kaki manusia sebenarnya didesain untuk melangkah tanpa suara di atas tanah atau rumput. Namun, ketika kita mulai membangun jalanan keras dan memakai pelindung kaki yang kaku, kita kehilangan kemampuan senyap itu. Sampai akhirnya, umat manusia mengembangkan sebuah obsesi aneh terhadap getah pohon dari Amerika Selatan yang lengket, mudah meleleh di musim panas, dan mengeras seperti batu di musim dingin.

III

Di sinilah sejarah mengambil jalan pintas yang sedikit gila. Ada seorang pria bernama Charles Goodyear. Dia bukan ilmuwan dengan fasilitas mewah, melainkan orang yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya keluar-masuk penjara karena utang, terobsesi mencari cara agar getah karet mentah ini bisa stabil. Ia bereksperimen dengan segala macam bahan kimia di dapur rumahnya. Suatu hari di tahun 1839, secara tidak sengaja, ia menjatuhkan campuran karet dan belerang ke atas tungku kompor yang panas. Bukannya meleleh menjadi cairan lengket, material itu justru bereaksi dan berubah. Karet itu menjadi lentur, kuat, dan kebal terhadap perubahan cuaca. Proses kimiawi ini kemudian kita kenal dengan nama vulcanization atau vulkanisasi. Penemuan ini memang merevolusi industri ban, tetapi diam-diam, hal ini mengubah total cara manusia berinteraksi dengan bumi. Kita tiba-tiba bisa memproduksi sol sepatu yang empuk dan elastis. Namun, ada efek samping psikologis yang muncul. Apa jadinya ketika spesies yang terbiasa melangkah dengan berisik tiba-tiba kehilangan suara kakinya?

IV

Jawabannya tersembunyi dengan sangat rapi pada nama sepatu itu sendiri: sneaker. Istilah ini mulai populer di akhir tahun 1800-an. Kata kerja to sneak berarti mengendap-endap atau menyelinap. Sol karet vulkanisasi bekerja sebagai peredam kejut atau shock absorber. Secara fisika, sol ini menyerap benturan kinetik antara tumit kita dan tanah, sehingga menghilangkan gelombang suara yang biasanya tercipta dari material keras. Dulu, departemen kepolisian mulai memakaikan sepatu bersol karet ini kepada para detektif agar mereka bisa menangkap penjahat tanpa ketahuan. Ironisnya, para perampok tak lama kemudian ikut memakai sepatu yang sama karena alasan serupa. Lalu, bagaimana dengan suara decitan di lapangan basket tadi? Itu adalah murni keajaiban sains dari gaya gesek. Sol karet vulkanisasi memiliki daya cengkeram yang sangat tinggi. Saat bertemu lantai datar yang licin, molekul karet akan menempel kuat menahan momentum (stick). Tapi karena tubuh kita terus mendorong ke depan, karet itu akhirnya menyerah dan terlepas secara paksa (slip). Pelepasan energi sepersekian detik inilah—yang disebut stick-slip phenomenon—yang menggetarkan udara dan menciptakan bunyi decitan ikonik tersebut.

V

Tidakkah menurut teman-teman hal ini menakjubkan? Sebuah ketidaksengajaan di atas kompor panas berabad-abad lalu kini menempel setia di telapak kaki kita setiap hari. Kita sering kali lupa betapa banyaknya lapis sejarah, fisika, dan inovasi yang menopang hal-hal paling biasa dalam keseharian kita. Sepatu sneaker tidak sekadar melindungi kaki, tetapi telah mengembalikan hak evolusioner kita untuk berjalan dengan empuk, mengubah cara kita berolahraga, dan memberi kita kebebasan untuk bergerak secara senyap. Jadi, esok pagi ketika kita memasang tali sepatu kanvas bersol karet kesayangan kita, luangkanlah waktu dua detik saja. Rasakan tekstur empuknya saat bersentuhan dengan tanah. Dengarkan kesunyiannya di atas aspal, atau decitannya saat kita berbelok mendadak. Di balik setiap langkah kasual kita, ada sejarah panjang tentang bagaimana umat manusia pada akhirnya berhasil menaklukkan kebisingan dunia.